Bulan dua, tanggal 25 , tahun 2012, jam 21 menit 25
Di malam minggu ini, aku menuliskan semua yang aku rasakan selama hampir lima bulan ini. Perasaan yang tadinya hambar, hanya karena diberi sedikit bumbu, menjadikan perasaan ini penuh 'rasa' , manis asem asin, mirip slogan iklan permen. Hidup memang fantastis, semuanya serba mungkin.
Berawal dari sebuah perkenalan singkat di sebuah tempat di kota jogja, aku mulai mengenal dia. Dia seorang yang baik dan ramah (setidaknya itu penilaianku untuk dia at first sight) . Perkenalan pertama biasa saja, tidak ada yang special yang aku rasakan dari dia. Hanya sekedar perasaan layaknya teman biasa yang baru kenal, dan perkenalan kami pun berlanjut di salah satu situs jejaring sosial yang paling laris saat ini, dan akhirnya kami saling bertukar nomor telepon. Dua tiga kali dia menyapaku, aku masih merasakan hal yang biasa saja. Mungkin juga dikarenakan status dia yang sudah memiliki pujaan hati. Aku memang pantang menyukai seseorang yang sudah memiliki dambaan hati.
Hari-hari pun berlalu dengan cepat, aku dan dia masih berteman biasa dan (masih) tidak ada perasaan special untuk dia. Sampai akhirnya aku lost contact dengan dia. Kalau aku tidak salah ingat, dimulai akhir desember saat aku menjemput adekku cuti di akademi kepolisian semarang hingga aku kembali lagi ke jogja usai liburan semester tanggal 26 bulan satu 2012. Sampai suatu ketika tiba-tiba dia bertanya lewat jejaring sosial "kog telephone aku 3x gag pernah kamu angkat?" , karena aku merasa tidak pernah mendapatkan telephone dari dia tentu saja aku bertanya "loh emang kapan kamu telephone?" . Ternyata nomer handphone dia ganti, sedangkan aku ga akan pernah angkat telephone kalau yang menghubungi nomer tidak terdaftar di contact list, wajar kan.
Akhirnya dia memberikan nomer handphone dia yang terbaru, dan setelah aku cek di panggilan masuk memang benar ada nomer dia yang telah menghubungi handphone ku beberapa minggu yang lalu. Semenjak itu, kami pun mulai berkomunikasi via telephone, dan rasa itu mulai ada. Dia menghubungiku setiap minggu, dan aku selalu menantikan telephone dari dia setiap minggu. Entahlah, perasaan ini semakin kuat saat dia memulai obrolan tentang masa depan. Boleh dibilang aku GR atau apalah sejenisnya, bukankah orang yang jatuh cinta memang selalu membenarkan walaupun itu keliru? Aku pun semakin membayangkan dia disetiap hembus nafasku, tiap rabu dan minggu aku selalu menantinya. Dan setiap rabu dan minggu pula dia selalu menyapaku entah dalam jejaring sosial walaupun hanya sekelumit obrolan singkat, aku selalu merindukan saat-saat itu.
Kedekatan kami setiap minggu bisa dibilang semakin dekat, bahkan sebelum tidur aku selalu membayangkannya dan saat bangun tidur aku memikirkannya. Aku tau dia sudah memiliki penjaga hati, aku pun tak ingin merusak hubungan mereka. Dan akupun terus berdoa kepada Allah agar apabila dia memang untukku maka mantapkanlah perasaanku. Aku terus meminta agar Allah menghendaki dia untukku bukan untuk yang lain. Karena aku percaya Allah lah yang menciptakan rasa cinta diantara mereka, maka Allah pula lah yang bisa menghendaki rasa benci diantara mereka.
Kami pun semakin dekat, bahkan sangat dekat. Sang penjaga hatinya pun mulai cemburu terhadapku. Namun aku tak pernah peduli. Toh walaupun aku menyukainya namun aku tak pernah terang-terangan mendekatinya. Aku selalu menunggunya untuk menyapaku walaupun itu sungguh membuat aku galau. Karena kedekatan kami itu dia memintaku untuk mendownload salah satu applikasi online penyedia fasilitas video call. Kami pun menggunakan fasilitas video call tersebut untuk bertatap muka sejenak. Perasaanku semakin berkembang, semakin melayang, bahkan semuanya terasa benar. Padahal dia sudah punya penjaga hati, penjaga hati yang tidak boleh disakiti dan disia-siakan.
Sampai akhirnya dini hari pagi ini sang penjaga hati tersebut tahu bahwa kami sering ber-video call. Dan sang penjaga hati itu marah kepada dia. Akupun juga tak mengetahui pasti bagaimana proses 'perang' mereka. Yang aku tau dia mengatakan kepada penjaga hatinya bahwa aku selayaknya dianggep adek sendiri oleh dia. Dan dia pun mengatakan kepadaku bahwa semuanya sudah baik-baik saja, walaupun aku juga tidak mengetahui bagaimana yang sebenarnya terjadi. Untuk pengetahuan saja, hari ini sang penjaga hatinya sedang berulang tahun, mungkin ke-21. Ya sang penjaga hati dia memang satu angkatan denganku.
Semenjak kejadian pagi ini, aku merasakan adanya pemisah dalam kedekatan kami. Entah itu dari aku ataupun dari dia. Aku pun tak tahu harus senang atau sedih. Senang karena dengan penjaga hatinya cemburu itu berarti bahwa penjaga hatinya merasa terancam olehku, sedih karena jujur aku tak mau melihat hubungan dua orang anak manusia ini hancur karena aku. Sekali lagi, bukan tipeku mendekati seorang cowo berpacar. Namun menjaga omongan memang gampang, mengontrol hati yang susah. Aku tetap menyukainya walaupun mungkin setelah kejadian ini dia akan menjauhiku, aku ikhlas atas semua kemungkinan yang terjadi setelah peristiwa ini. Yang aku harap hanyalah agar dia tetap tidak menjauhiku namun tanpa sepengetahuan penjaga hatinya (ups). Semuanya sah-sah saja, toh mereka belum menikah.
Aku hanya ingin berterimakasih kepada dia, dia yang membuat aku galau setiap detik, dia yang membuat aku selalu kepo dengan semua status dia, dia yang selalu membuat aku menangis saat melihat kemesraannya dengan penjaga hatinya, dan semuanya. Semuanya yang telah dia lakukan padaku selalu membuatku menangis, entah menangis bahagia ataupun menangis sedih (banyakan sedihnya). Aku sampai sekarang masih berharap kepada Allah agar Allah menjadikan dia milikku selamanya.
Semua rahasia ini, suara hati ini, lebih baik aku simpan dengan rapi hingga suatu saat Tuhan memberikan kunci padamu untuk kau buka :)
For : Mancung
By : Pesek :)