Saturday, October 15, 2011

Asumsi Dasar Karakteristik Matematika, Subyek Didik dan Belajar Matematika Sebagai Dasar Pengembangan Kurikulum Matematika Berbasis Kompetensi Di SMP


Asumsi Dasar Karakteristik Matematika, Subyek Didik dan Belajar Matematika
Sebagai Dasar Pengembangan Kurikulum Matematika Berbasis Kompetensi Di SMP
By : Drs. Marsigit, MA
Summary by : Fatikha Akfini Anantaputri (09313244012)

Sabtu, 15 oktober 2011
The main base of problem is how to planning, developing, and implementation of curriculum which appropriate with the teaching learning activity what be hoped. In the mathematics education is based of competence emphasize on the competence which it is should has by graduate, so the curriculum should be developed appropriate explaination of competence standart be came to the base competence that it include afective skill, cognitive, also psichomotoric. Therefore, in order to be reached mathematics education then it is need rowed syllabi of mathematics lesson so include lesson substance which it refer on the characteristic of mathematics appropriate with what is reached. 

Ebbutt dan Straker (1995: 10-63) define school mathematics and then called as mathematics ,that:
1. Mathematics is activity to research pattern and relation.
2. Mathematics is creativity which it need imagination, intuition, and innovation.
3. Mathematics is activity of problem solving
4. Mathematics is communication tool.
In the developing of cognitive aspect, Ebbutt dan Straker (1995: 60-75) also give define about characteristic of student and implication of mathematics learning so potention of student can be developed optimally, that they are:
1. Student will study if they get motivation.
2. Student study with their method.
3. Student study stand alone and cooperation.
4. Student need the context and situation which different in their study.

In the hierarchy of afective aspect according to Krathwhol, Paul, dan Krech that about attitude can be get the conclusion that the meaning of attitude that it is disposing of sense to psychology object, it is evaluation of object. In the developing of psychomotoric aspect that student activity is toke to demonstrate about skill and competence to do physic activity like that draw triangle, square, cyrcle, etc. 

Implemetation in curriculum then the Basis Competence Curriculum be planed so in the learning mathematics process, student can do searching of pattern and relation activity; develop creativity and imagination; intution and discovery; and communicate about their mathematics thought to other. 

Experience and study activity should be did by student so they can reach the base competence and substance lesson. Study experience can be got in class or out of class and it is be supported by axistance of object source. Developing of experience and study activity is essence of Basis Curriculum Competence system which it include mathematics charracteristic, child subject, and mathematics learning.

Tuesday, October 11, 2011

Fraction For Junior High School


Fraction For Junior High School
Modul PPG Pend.Matematika UNY
Oleh : Dr. Marsigit
Ikhtisar oleh : Fatikha Akfini Anantaputri (09313244012)

Paradigma baru dalam pendidikan adalah guru sebagai fasilitator untuk membantu mengembangkan kemampuan matematika mereka. Guru harus memfasilitasi siswa dan memberikan siswa kesempatan untuk belajar matematika konstektual. Pada awalnya, tidak mudah bagi guru untuk mengembangkan materi konkrit sebagai orientasi dunia matematika. Dalam hal materi, guru berusaha mengidentifikasikan peran representasi visual dalam mendirikan hubungan antara konsep fraksi, hubungan dan operasi. Dalam membangun hubungan matematis, para guru memandang siswa perlu membangun sikap matematika sendiri. Para guru merasa bahwa pengertian formal pecahan, hubungan dan operasi datang sejalan dengan kecenderungan berbagi ide konsep pecahan melalui diskusi kelompok kecil.

Strategi dalam pengajaran pecahan :

  1. Memastikan bahwa siswa telah menguasai ketrampilan prasyarat tugas-tugas yang akan dipelajari.
  2. Perkenalkan perintah ketrampilan yang singkat dan jelas.
  3. Memperkenalkan perintah dengan menggunakan bahan yang nyata.
  4. Pastikan contoh-contoh yang diajarkan masuk dalam kesempatan berlatih yang cukup untuk penguasaan.
  5. Pastikan bahwa contoh-contoh pengajaran anda termasuk variasi dari semua jenis masalah.
  6. Memberikan instruki sistematis tentang diskriminasi antara jenis masalah yang berbeda.
  7. Menyediakan praktek panduan sebelum memberikan penugasan bekerja independen.
Dalam modul ini terdiri dari beberapa bab yang menjelaskan tentang pecahan : Konsep pecahan, Membandingkan dan mengurutkan pecahan, decimal, Persen dan permill, bekerja dengan pecahan, dan, Notasi ilmiah pecahan dan pembulatan decimal. 

Sunday, October 9, 2011

KULIAH BAHASA INGGRIS P.MAT 1 (23)


PHILOSOPHICAL AND THEORETICAL GROUND OF MATHEMATICS EDUCATION
Oleh : Marsigit
Ikhtisar oleh : Fatikha Akfini Anantaputri (09313244012)

Filsafat pendidikan matematika meliputi review beberapa masalah pusat pendidikan matematik yaitu ideologi, landasan dan tujuannya. Hal ini juga mendalami lebih tentang aspek: sifat matematika, nilai matematika, sifat mahasiswa, sifat pembelajaran, sifat pengajaran matematika, sifat sumber belajar mengajar, penilaian sifat, sifat sekolah matematika, sifat siswa belajar matematika. Dalam rangka memberi gambaran yang jelas tentang peran studi filsafat matematika dan hubungannya dengan lokakarya kegiatan dan akan dibahas tentang sifat pengembangan sumber daya manusia dan
sifat studi pelajaran dalam pendidikan matematika.

Menurut Paul Ernest (1994), studi filsafat pendidikan matematika berakibat pada praktek mengajar matematika melalui isu-isu tercermin pada pertanyaan berikut:
"Apa teori dan epistemologi mendasari pengajaran matematika? Apakah asumsi ini berlaku? Berarti apa yang diadopsi untuk mencapai tujuan matematika pendidikan? Apakah tujuan dan sarana yang konsisten? Apa metode, sumber daya dan teknik yang telah dan mungkin digunakan dalam pengajaran matematika? Apa teori-teori mendukung penggunaan informasi yang berbeda dan teknologi komunikasi dalam mengajar matematika? Apa yang membuat nilai-nilai yang membawa teknologi ini dengan mereka, baik yang dimaksudkan dan tidak disengaja? Apa itu untuk mengetahui kepuasan matematika di tujuan pengajaran
matematika? Bagaimana belajar mengajar matematika harus dievaluasi dan
dinilai? Apa peran guru? Apa berbagai peran yang mungkin menjadi perantara hubungan antara matematika guru dan pelajar? Apaetika, batas-batas sosial dan epistemologis terhadap tindakan guru? Apa pengetahuan matematika tidak perlu guru? Apa dampak keyakinan guru, sikap dan filosofi pribadi matematika terhadap praktek? Bagaimana seharusnya guru matematika dididik? Apa perbedaan antara mendidik, pelatihan dan mengembangkan guru matematika? "

Dalam perspektif yang lebih umum, dapat dikatakan bahwa filosofi pendidikan matematika bertujuan untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang status dan dasar dari objek pendidikan matematika dan metode, yaitu ontologis mengklarifikasi sifat dari masing-masing komponen pendidikan matematika, dan epistemologis mengklarifikasi apakah semua pernyataan yang bermakna pendidikan matematika memiliki tujuan dan menentukan kebenaran. Memahami bahwa hukum-hukum alam, hukum-hukum matematika, hukum
pendidikan memiliki status yang sama, dunia yang sangat nyata dari bentuk objek
pendidikan matematika bentuk dasar dari pendidikan matematika.

KULIAH BAHASA INGGRIS P.MAT 1 (22)


KTSP DAN IMPLEMENTASINYA

By : Dr. Marsigit, M.A
summary by : Fatikha Akfini Anantaputri (09313244012)

Sunday, 9 oktober 2011
Education Unit Level Curriculum is the operationalcurriculum that formulated and implemented by each educational unit. Education Unit Level Curriculum as a manifestation of primary and secondary education curriculum developed in accordance with its relevance by any group or committee of the education unit and school under the coordination and supervision of the local education office of the Department of Religion District / City to basic education and secondary education to the province based Content Standards and Standards on Graduate Competency and curriculum guide prepared by the National Education Standards Agency. Education Unit Level Curriculum was developed based on the following principles:
• centered on the potential, progress, needs and interests of learners and their environment.
• diverse and integrated
• responsive to developments in science, technology and art
• relevant to the needs of life
• comprehensive and sustainable
• lifelong learning
• balance between national interests and regional interests

Education Unit Level Curriculum components include: purpose of education the education unit, and reference operational education unit level curriculum development. Structure of the Education Unit Level Curriculum in elementary and secondary education levels contained in the content standards, which developed from a group of subjects as follows:
(1) The subjects of religion and noble character
(2) The subject of citizenship and personality
(3) The subjects of Science and Technology
(4) The aesthetic subjects
(5) The physical subjects, sports and health

Level of the education curriculum includes a number of subjects that the breadth and depth is the burden of learning for students in the educational unit. In addition, the substance of local and self-development activities included in the curriculum content. Curriculum and other education unit level include: Increase in Class, and Graduation; Life Skills Education, and Education Excellence-Based Local and Global.

Saturday, October 8, 2011

KULIAH BAHASA INGGRIS P.MAT 1 (21)


THE ICEBERG APPROACH OF LEARNING FRACTIONS IN JUNIOR HIGH SCHOOL :
Teachers’ Simulations of Prior to Lesson Study Activies
By : Dr. Marsigit, M.A.
summary by : Fatikha Akfini Anantaputri (09313244012)


minggu, 9 oktober 2011
Tujuan dari paper ini adalah untuk menyediakan guru sebuah pendekatan realistik untuk mengajarkan pecahan di tingkat SMP dengan skema studi kasus. Tujuan kegiatan studi kasus yang dilakukan antara lain: mengetahui konsep pecahan, siswa membutuhkan orientasi kata matematika untuk mengembangkan materi tentang model dari konsep pecahan, siswa harus mengembangkan relasi/hubungan antar model materi. 

Pendekatan “gunung es” adalah titik awal dari serangkaian belajar yang memberikan pengalaman kepada siswa sehingga mereka terlibat secara personal dalam kegiatan matematika. Pendekatan ini seharusnya digunakan melalui serangkaian belajar potensi dengan memanfaatkan pengetahuan matematika yang dimiliki siswa. Permasalahan yang dihadapi siswa adalah kurangnya pemahaman bahwa pecahan merupakan bagian dari keseluruhan.

Dalam mengembangkan Model Gunung Es dalam mengajar, guru berharap ada suatu kecenderungan siswa akan berpikir bahwa pecahan tidak hanya merupakan bilangan bulat, tetapi juga proporsi atau bilangan rasional. Model ini memperkuat siswa untuk membentuk sendiri konsep pecahan walaupun siswa ada kesulitan untuk memecahkan masalah yang dinyatakan secara simbolis.

Ada 6 kelompok guru yang mengembangkan Model Gunung Es dalam mengajar pecahan di SMP dimana tiap kelompok terdiri dari 5 guru, yaitu: Pengurangan angka pecahan; Persen dan permil; Membandingkan pecahan; Pecahan desimal; Pembagian pecahan; Menggabungkan pecahan. 

Banyak strategi dan latihan yang telah ditemukan untuk membantu mengembangkan penulisan/karya mengenai pecahan. Masalah materi konkret dan kontekstual dirasakan lebih nyata oleh siswa ketika mereka harus mengembangkan aspek horizontal konsep pecahan. 
Guru menemukan bahwa permasalahan horizontal harus memberikan pengertian kepada 
siswa guna membangun aspek vertikal konsep pecahan. Sebagian guru juga mengakui bahwa pecahan dapat menjadi sesuatu yang sangat abstrak dan sulit bagi siswa. Namun. Pemodelan Gunung Es ini merupakan pendekatan yang sangat penting dan berguna dalam mengajarkan pecahan di tingkat SMP.

KULIAH ENGLISH FOR MATHE EDU (20)

STRATEGI MENYIAPKAN SDM MENUJU SEKOLAH DASAR BERSTANDAR NASIONAL DAN INTERNASIONAL
By : Marsigit, M.A
Smmary by : Fatikha Akfini Anantapitri (09313244012)


Not easy for the teachers to change the old method with new method in learning. More the teachers that use the traditional method in their class. There is still a big enough gap for the convergence of a theory educate and the practice of educating. Need a 'political will' of the government to place of education that are returned to nature educate in accordance with the essence subject learners and the nature of scientific so that education is not only view the subject as investment development but as a subject that needs developed.

Until now there is not yet agreement on the best way how to teach. Jaworski (1994: 40) even states that it is not there a best way to educate. Teaching at SBI is not easy because we find that students are also not easy in learning. Learning in the SBI should provide an opportunity for teachers to use the choice of teaching methods adjusted to ability level their students and materials as follows:
1. Method of expository by the teacher
2. Method of discussion
3. Method of solving problem
4. Method of discovery
5. Basic skill training methods and principles
6. Method of implementation

Learning creative related to the set of truth values consists of the theorems
along with the evidence. Thus learning creatively in SBI meaning how far we are able to perform activities in the range intentions, attitudes, knowledge, skills and experience, education and learning. Learn creatively in SBI can be achieved on the basis of an understanding of knowledge that is objective and subjective actors. Social interaction among students and teachers in the SBI will be able to provide activities creatively for the rectification of the concepts, so students will obtain

improvement concepts, so they have the same subjective knowledge with objectives knowledge. Critical power and creativity of students in SBI can be developed through learning activities creative.
Revitalization of education in SBI also implies the need to attempt to formulate a learning model that regarded internationally with our conditions and in accordance with the demands of development era. International school (SBI) to develop learning perspective or an international education so that the process organized learning able to overcome the problems.

Saturday, October 1, 2011

KULIAH BAHASA INGGRIS P.MAT 1 (19)


Developing Teacher Training Textbooks for Lesson Study
in Indonesia
Oleh : Dr. Marsigit
Ikhtisar Oleh : Fatikha Akfini Anantaputri (09313244012)


Sabtu, 1 Oktober 2011
Sejak tahun 2000 pemerintah berupaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Upaya-upaya yang dilakukan di antaranya bekerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan internasional, mengadakan berbagai inovasi-inovasi pendidikan, serta meninjau ulang peraturan-peraturan pendidikan.

Guru merupakan salah satu pokok penting dalam pendidikan di Indonesia. Untuk menjadi guru sekolah formal maka pendidikan yang harus ditempuh adalah minimal S1, sedangkan untuk menjadi guru di perguruan tinggi (dosen) maka pendidikan yang harus ditempuh adalah minimal S2. Guru juga harus memiliki sertifikat pendidik.

Bagian penting lain dalam kegiatan pembelajaran di sekolah adalah penggunaan buku pelajaran/buku referensi. Penyediaan buku pelajaran di sekolah masih menjadi kelemahan sistem pendidikan di Indonesia. Penyediaan buku menjadi monopoli suatu institusi yang ingin mengambil keuntungan. Seharusnya, setiap sekolah bahkan murid, diberi kebebasan untuk memilih buku pelajaran yang sesuai dengan keinginan masing-masing. Masalah yang lain adalah banyak siswa yag tidak bisa membeli buku karena berasala dari latar belakang ekonomi yang rendah. Hal ini menjadi kewajiban sekolah dan guru untuk meyediakan buku yang murah dan berkualitas.

Guru matematika di sekolah harus memberikan materi-materi pelajaran matematika yang memang diperuntukkan bagi siswa, yakni matematika sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan ini maka guru seharusnya membuat buku pelajaran sendiri. Hal ini menjadi kelemahan sebagian besar guru di Indonesia. Kemampuan mereka dalam menulis dan menghasilkan buku pelajaran yang berkualitas baik masih kurang.

Dengan buku buatan sendiri, tentunya materi pembelajaran yang diberikan akan sesuai dengan standar kompetenti dan kompetensi dasar yang berlaku. Guru akan mudah menyampaikan dan siswa juga akan mudah menerima materi pembelajaran. Dengan bekitu maka hakekat belajar matematika akan tercipta sepenuhnya di dalam kelas.