Dalam membersihkan hati dan jiwa dan
segala yang mengotorinya, yang dapat dilakukan adalah carilah guru yang tidak
hanya menunjukinya tapi sekaligus dapat membimbing apabila dalam hal spiritual,
namun tidaklah mudah menjadi guru yang dapat membimbing karena harus diperlukan
jiwa yang bersih. Setiap zaman selalu ada guru atau pembawa wasilah, namun
tersembunyi maka harus dicari.
Diberi kesempatan memandang Wajah
Rasulullah adalah menjadi idaman baik orang beriman maupun orang kafir. Hanya
saja tidaklah mudah meraihnya. Maka untuk setiap urusan dunia dan akhirat itu
mempunyai gurunya masing-masing. Agar mampu memandang Wajah Rasulullah maka haruslah
menemukan guru spiritual yang menjadi wali khutub pada jamannya. Dan dia itulah
yang mampu mengajari dan membimbing spiritual, termasuk adabnya mampu memandang
Wajah Rasulullah. Carilah...padahal mereka itu biasanya bersifat tersembunyi.
Iman beriman, ilmu berilmu, hidayah berhidayah, rakhmat berakhmat, dan guru pun
berguru. Malaikat Jibril itulah gurunya Rasulullah. Dan Rasulullah itulah
gurunya Abu Bakar Sidiq.
Selanjutnya, Spiritualitas itu dapat
menyebabkan kecerdasan pikiran atau IQ. Orang yang berkembang baik IQ dan
spiritualQ nya maka EQ nya sebagai implikasi, emosionalnya akan terjaga.
Apabila kita tidak bisa menjaga emosi maka dia menjadi orang paling bodoh
karena tidak sopan terhadap ruang dan waktu. IQ nya secara filsafat dianggap
rendah karena tidak sopan terhadap ruang dan waktu walaupun secara tes
tergolong tinggi. SQ sendiri bertingkat-tingkat, salah satu tingkat yang
tertinggi adalah kemanapun anda melihat maka akan melihat Tuhanmu itu, maka
kemanapun akan terjaga dan terbimbing. Tingkat paling tinggi adalah merasa
dihampiri oleh Tuhan, justru ini membuat orang menjadi sombong dengan
ke-aku-annya. Orang yang IQnya sangat tinggi, apabila dia focus pada satu tujuan
maka bidang yang lain menurun, hal ini karena keterbatasan manusia.
Tiada unsur yang musnah, hanya berubah.
Misal fosil yang berubah menjadi karbon dan kemudian menjadi minyak setelah
ribuan tahun. Pengertian manusia mempunyai pengertian yang berbeda-beda yaitu
manusia secara formal, manusia secara normative, manusia secara spiritual.
Belajar filsafat itu masih berada di lobi karena belum masuk terhadap
kamar-kamar yang lain missal psikologi. Artinya juga setiap orang selalu
meliwati lobi seperti halnya filsafat itu sendiri.\
Hakekat berpikir mungkin juga harus
tetap dibatasi oleh ruang dan waktu agar tidak meluas dan menyimpang pada
hal-hal yang sangat sulit dimengerti dan dicapai jiwa kita, mungkin kita hanya
bisa memulai dengan kerangka berpikir bahwa Ilmu itu berawal dari
gejala/fenomena alam, dalam ruang terdapat fenomena alam yang dapat di amati,
dicermati dan di evaluasi secara kasat mata baik isi dan wujudnya
masing-masing. Kemudian melalui perbedaan waktu mulai menimbulkan
persepsi/dugaan yang akan menghasilkan pengetahuan dan sensasi. Menghasilkan
konsep dan intuisi yang kemudian akan menjadi konsep yang cukup, baik konkrit
maupun yang abstrak.
Selanjutnya dari konsep yang ada
diterapkan untuk menemukan fenomena dan gejala alam yang dapat dicari pemecahan
masalahnya yang nantinya akan dijadikan bahan dasar dan konsep awal untuk
diamati dan di evaluasi menjadi sebuah konsep baru atau ilmu baru yang dapayt
diaplikasikan secara utuh dan sempurna. Orang dikatakan mampu berfilsafat
apabila mampu berpikir apriori. 80% hidup kita adalah intuisi, maka kenalilah
intuisi itu, kembangkanlah intuisi itu. Sebagai contoh yaitu cinta. Namun
intuisi tidak dapat didefinisikan.
No comments:
Post a Comment