Wednesday, January 23, 2013

Lecture Reflection 3



Dalam membersihkan hati dan jiwa dan segala yang mengotorinya, yang dapat dilakukan adalah carilah guru yang tidak hanya menunjukinya tapi sekaligus dapat membimbing apabila dalam hal spiritual, namun tidaklah mudah menjadi guru yang dapat membimbing karena harus diperlukan jiwa yang bersih. Setiap zaman selalu ada guru atau pembawa wasilah, namun tersembunyi maka harus dicari.
Diberi kesempatan memandang Wajah Rasulullah adalah menjadi idaman baik orang beriman maupun orang kafir. Hanya saja tidaklah mudah meraihnya. Maka untuk setiap urusan dunia dan akhirat itu mempunyai gurunya masing-masing. Agar mampu memandang Wajah Rasulullah maka haruslah menemukan guru spiritual yang menjadi wali khutub pada jamannya. Dan dia itulah yang mampu mengajari dan membimbing spiritual, termasuk adabnya mampu memandang Wajah Rasulullah. Carilah...padahal mereka itu biasanya bersifat tersembunyi. Iman beriman, ilmu berilmu, hidayah berhidayah, rakhmat berakhmat, dan guru pun berguru. Malaikat Jibril itulah gurunya Rasulullah. Dan Rasulullah itulah gurunya Abu Bakar Sidiq.
Selanjutnya, Spiritualitas itu dapat menyebabkan kecerdasan pikiran atau IQ. Orang yang berkembang baik IQ dan spiritualQ nya maka EQ nya sebagai implikasi, emosionalnya akan terjaga. Apabila kita tidak bisa menjaga emosi maka dia menjadi orang paling bodoh karena tidak sopan terhadap ruang dan waktu. IQ nya secara filsafat dianggap rendah karena tidak sopan terhadap ruang dan waktu walaupun secara tes tergolong tinggi. SQ sendiri bertingkat-tingkat, salah satu tingkat yang tertinggi adalah kemanapun anda melihat maka akan melihat Tuhanmu itu, maka kemanapun akan terjaga dan terbimbing. Tingkat paling tinggi adalah merasa dihampiri oleh Tuhan, justru ini membuat orang menjadi sombong dengan ke-aku-annya. Orang yang IQnya sangat tinggi, apabila dia focus pada satu tujuan maka bidang yang lain menurun, hal ini karena keterbatasan manusia.
Tiada unsur yang musnah, hanya berubah. Misal fosil yang berubah menjadi karbon dan kemudian menjadi minyak setelah ribuan tahun. Pengertian manusia mempunyai pengertian yang berbeda-beda yaitu manusia secara formal, manusia secara normative, manusia secara spiritual. Belajar filsafat itu masih berada di lobi karena belum masuk terhadap kamar-kamar yang lain missal psikologi. Artinya juga setiap orang selalu meliwati lobi seperti halnya filsafat itu sendiri.\
Hakekat berpikir mungkin juga harus tetap dibatasi oleh ruang dan waktu agar tidak meluas dan menyimpang pada hal-hal yang sangat sulit dimengerti dan dicapai jiwa kita, mungkin kita hanya bisa memulai dengan kerangka berpikir bahwa Ilmu itu berawal dari gejala/fenomena alam, dalam ruang terdapat fenomena alam yang dapat di amati, dicermati dan di evaluasi secara kasat mata baik isi dan wujudnya masing-masing. Kemudian melalui perbedaan waktu mulai menimbulkan persepsi/dugaan yang akan menghasilkan pengetahuan dan sensasi. Menghasilkan konsep dan intuisi yang kemudian akan menjadi konsep yang cukup, baik konkrit maupun yang abstrak.
Selanjutnya dari konsep yang ada diterapkan untuk menemukan fenomena dan gejala alam yang dapat dicari pemecahan masalahnya yang nantinya akan dijadikan bahan dasar dan konsep awal untuk diamati dan di evaluasi menjadi sebuah konsep baru atau ilmu baru yang dapayt diaplikasikan secara utuh dan sempurna. Orang dikatakan mampu berfilsafat apabila mampu berpikir apriori. 80% hidup kita adalah intuisi, maka kenalilah intuisi itu, kembangkanlah intuisi itu. Sebagai contoh yaitu cinta. Namun intuisi tidak dapat didefinisikan. 

No comments: