LESSON STUDY:
Promoting Student Thinking on the Concept of
Least Common Multiple (LCM) Through Realistic Approach in the 4th Grade of Primary Mathematics Teaching
Oleh : Marsigit, Atmini Dhoruri, Sugiman, Ali Mahmudi
Ikhtisar oleh : Fatikha Akfini Anantaputri (09313244012)
Minggu, 25 September 2011
Dalam Standar Nasional untuk isi dari Kurikulum Matematika Berbasis Sekolah untuk Sekolah Dasar yang baru, dinyatakan bahwa matematika adalah ilmu universal dan merupakan dasar dari ilmu-ilmu lainnya. Dalam Garis Panduan untuk mengembangkan Kurikulum Berbasis Sekolah, dinyatakan bahwa matematika di sekolah dasar memiliki fungsi untuk mendorong siswa untuk berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif dan mampu berkolaborasi dengan orang lain. Kompetensi-kompetensi dibutuhkan siswa agar mereka bisa mendapatkan, akses dan menggunakan informasi untuk mempertahankan hidup mereka.
Implementasi kurikulum matematika dasar dalam ruang kelas perlu mengembangkan keterampilan pemecahan masalah yang mencakup masalah tertutup dan terbuka. Pendekatan kontekstual dan realistis disarankan untuk dikembangkan oleh guru untuk mendorong pemikiran matematika di sekolah dasar. Dengan pendekatan ini, diharapkan bahwa siswa langkah-demi-langkah belajar dan menguasai matematika dengan antusias.
Sejalan dengan upaya untuk mempersiapkan siswa bagi masyarakat dan bersekolah dan bekerja ke depannya, dan dengan demikian, wajar bagi pemerintah Indonesia untuk menerapkan Pendidikan Matematika Realistik (RME) dalam skema dari Lesson Study, di mana perluasan dari isu-isu di atas dapat ditangani. Pendidikan Matematika Realistik (RME) dalam skema dari Lesson Study membebaskan guru untuk meningkatkan pendekatan instruksional dari tradisional ke yang progresif.
Bentuk RME sekarang sebagian besar ditentukan oleh pandangan Freudenthal tentang matematika. Dua poin penting tentang pandangannya adalah matematika harus dihubungkan ke realitas dan matematika sebagai aktivitas manusia. Dua jenis kematematikaan yang dirumuskan secara eksplisit dalam konteks pendidikan oleh Treffers,, 1987 di Zulkardi, 2006 adalah kematematikaan horisontal dan vertikal. Dalam kematematikaan horisontal, para siswa datang dengan alat-alat matematika yang dapat membantu untuk mengatur dan memecahkan masalah yang terletak dalam situasi kehidupan nyata. Di sisi lain, kematematikaan vertikal adalah proses reorganisasi dalam sistem matematika itu sendiri.
Para peneliti dari Lesson Study ini telah berusaha untuk merangkum gambar di mana guru diupayakan untuk mempromosikan Pemikiran Siswa pada Konsep Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) Melalui Pendekatan Realistis. Hasil mencolok dari studi ini digambarkan bahwa:
1. Pemikiran siswa tentang konsep KPK banyak disumbangkan oleh pekerjaan dari guru pada konteks kehidupan nyata sebagai titik awal untuk pembelajaran mereka.
2. "Format Permasalahan berbentuk Kalender" adalah model yang berguna bagi siswa untuk menjembatani pemikiran matematika antara abstrak dan nyata, dan membantu siswa untuk belajar KPK di berbagai tingkat abstraksi.
3. Pemikiran siswa tentang konsep KPK secara bersamaan dipengaruhi oleh penggunaan rumus dan strategi produksi mereka sendiri
4. Dalam pemikiran konsep KPK, interaksi antara guru dan siswa, siswa dan siswa adalah kegiatan yang penting.
5. pemikiran siswa tentang konsep KPK dipengaruhi oleh hubungan antara untaian konsep-konsep matematika yang telah dikembangkan sebelumnya misalnya konsep dari faktor bilangan, konsep faktor persekutuan (FP) dan hubungan dengan masalah-masalah yang bermakna di dunia nyata
No comments:
Post a Comment